wb_sunny

Breaking News

Tetap Jaga Jarak Ketika Bekerja

Tetap Jaga Jarak Ketika Bekerja


Memasuki era new normal, saat ini sudah banyak para karyawan yang kembali bekerja di kantor. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran covid-19 di tempat kerja.
 
Ketua Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI), Dr.dr.Astrid Widajati Sulistomo, MPH, Sp.OK mengatakan rekomendasi yang diberikan sesuai anjuran WHO antara lain skrining dan identifikasi pekerja, rekayasa engineering untuk jaga jarak, wajib masker, dan tidak memakai alat makan atau shalat bersama-sama.
 
“Skrining dilakukan dengan melakukan pengukuran suhu dengan thermal scanner. Jika suhu tubuh lebih dari 37,3 derajat maka pekerja tidak boleh masuk kerja. Perusahaan juga harus memantau gejala-gejala awal seperti demam, batuk, sakit tenggorokan. Ini dapat dilakukan setiap hari pada saat pekerja masuk,” ujar dr. Astrid, pada diskusi daring yang digelar ILUNI UI.

Selain skrining, perlu juga adanya rekayasa engineering untuk jarak antar pekerja, sirkulasi udara, serta kontrol administratif. Perlu adanya penjadwalan kerja. Selain itu, pekerja tidak boleh memiliki jam kerja diatas 8 jam.
 
"Perusahaan juga tidak boleh mengumpulkan pekerja dalam jumlah banyak. Semua kebijakan harus siap sehingga tidak menimbulkan kebingungan pekerja,” tegas dr. Astrid.
 
Selain perusahaan, pekerja pun harus menerapkan protokol kesehatan yang tinggi. Seperti menjaga jarak, menggunakan masker, bawa baju ganti, serta meningkatkan daya imunitas. Jangan lagi menggunakan peralatan makan dan solat bersama-sama.
 
Tim K3 perusahaan pun harus melakukan pemantauan terhadap karyawan. Ketika ada pekerja yang menjadi ODP atau PDP, mesti dicatat. Jika ada kasus, perlu dilihat pemetaannya lalu ditelusuri jejaknya, siapa saja orang yang bertemu dengan orang positif,” ujar dr. Astrid.
 
Ia juga menjelaskan mengenai pemetaan risiko pekerja yang bisa diterapkan perusahaan. Pemetaan risiko tersebut dibagi menjadi risiko individu dan risiko pekerjaan.
 
“Individu dengan usia muda dan tidak memiliki penyakit penyerta bisa masuk pemetaan risiko warna hijau yang artinya aman. Sedangkan pekerja paruh baya dan lansia terutama yang memiliki penyakit penyerta, masuk kategori kuning dan merah yang artinya berisiko tinggi,” tutup dr. Astrid.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar